ACEH BARAT – Upaya menanamkan nilai kebangsaan kepada generasi muda terus dilakukan di berbagai daerah. Di Kecamatan Woyla Timur, Kabupaten Aceh Barat, kegiatan pembekalan wawasan kebangsaan kepada pelajar kembali digelar sebagai bagian dari langkah memperkuat karakter generasi penerus bangsa.
Babinsa Koramil 11/Woyla Timur, Sertu Iwan, hadir langsung di SMA Negeri 1 Woyla Timur untuk memberikan materi tentang pengamalan nilai-nilai Pancasila kepada para siswa, Jumat (24/04/2026). Dalam suasana yang berlangsung santai namun penuh makna, para pelajar terlihat antusias mengikuti pemaparan yang disampaikan oleh aparat teritorial tersebut.
Dalam kesempatan itu, Sertu Iwan mengingatkan bahwa Pancasila bukan sekadar rangkaian kata yang dihafal dalam pelajaran sekolah, tetapi merupakan pedoman hidup yang harus dipahami dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila memiliki peran penting dalam menjaga persatuan bangsa yang terdiri dari beragam suku, agama, dan budaya.
Ia menjelaskan bahwa pengamalan Pancasila dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan sekitar, seperti saling menghormati sesama teman, menjaga sikap toleransi, serta membangun semangat kebersamaan. Sikap-sikap tersebut menjadi pondasi penting dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
“Pancasila adalah fondasi negara kita. Mengamalkan Pancasila berarti kita saling menghormati perbedaan, menjaga persatuan, gotong royong, dan menjunjung tinggi keadilan sosial. Ini adalah tugas kalian, generasi muda, untuk menjaganya agar Indonesia tetap kuat,” ujar Sertu Iwan di hadapan para pelajar.
Selain membahas makna lima sila Pancasila, materi yang disampaikan juga menyinggung berbagai tantangan yang saat ini dihadapi generasi muda. Sertu Iwan menyoroti sejumlah persoalan yang kerap menjadi ancaman bagi masa depan pelajar, seperti bahaya radikalisme, penyalahgunaan narkoba, hingga dampak negatif penggunaan media sosial yang tidak bijak.
Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi informasi membawa dua sisi yang berbeda. Di satu sisi memberikan kemudahan akses terhadap pengetahuan, namun di sisi lain juga dapat menjadi sumber penyebaran informasi yang tidak benar atau hoaks.
Karena itu, para pelajar diingatkan agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu kebenarannya. Kemampuan berpikir kritis serta pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan dinilai sangat penting agar generasi muda tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memecah belah persatuan.
“Jangan mudah terprovokasi oleh berita bohong atau isu SARA. Gunakan akal sehat dan kembali pada nilai-nilai luhur Pancasila. Kalian adalah garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI,” tambahnya.
Penyampaian materi berlangsung secara interaktif. Para siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga diajak berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang sering mereka temui dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan pergaulan remaja, penggunaan media sosial, serta pentingnya menjaga sikap saling menghargai di lingkungan sekolah.
Kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi para pelajar untuk menyampaikan pendapat dan pertanyaan terkait nilai-nilai kebangsaan. Hal ini membuat suasana pembelajaran terasa lebih hidup sekaligus memberikan pemahaman yang lebih mendalam bagi para siswa.
Bagi pihak sekolah, kegiatan seperti ini dinilai sangat bermanfaat dalam membentuk karakter pelajar. Pendidikan formal di sekolah memang memberikan banyak pengetahuan akademik, namun penguatan nilai-nilai kebangsaan juga sangat penting agar para siswa memiliki landasan moral yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, generasi muda memang dihadapkan pada berbagai pengaruh yang datang dari berbagai arah. Tanpa bekal karakter yang kuat, mereka berisiko terjerumus pada hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Karena itu, sinergi antara lembaga pendidikan dan aparat kewilayahan seperti Babinsa menjadi salah satu langkah strategis dalam menjaga ketahanan sosial masyarakat. Kehadiran Babinsa di tengah dunia pendidikan tidak hanya mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat, tetapi juga memberikan motivasi bagi para pelajar untuk lebih mencintai tanah airnya.
Kegiatan pembekalan wawasan kebangsaan yang dilakukan oleh Babinsa tersebut merupakan bagian dari program pembinaan teritorial (Binter) TNI Angkatan Darat. Program ini berfokus pada pendekatan persuasif kepada masyarakat, termasuk generasi muda, guna memperkuat semangat nasionalisme serta memperkokoh ketahanan nasional.
Melalui pendekatan yang lebih humanis dan edukatif, TNI berupaya menanamkan kesadaran bahwa menjaga keutuhan bangsa bukan hanya tugas aparat negara, tetapi juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, termasuk para pelajar.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan para siswa tidak hanya memahami makna Pancasila secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dari lingkungan sekolah, nilai-nilai tersebut diharapkan terus berkembang hingga ke tengah masyarakat.
Pada akhirnya, generasi muda yang memiliki karakter kuat, berjiwa nasionalis, serta mampu berpikir kritis akan menjadi modal penting bagi masa depan Indonesia. Mereka bukan hanya penerus bangsa, tetapi juga penjaga nilai-nilai luhur yang menjadi dasar berdirinya negara.(0114).
